Assalamualaikum wr. wb

Sebagai pembuka mari kita renungkan bahwa Rasulullah saw adalah orang arab. Tentu wahyu yang diturunkan kepadanya dalam bahasa Arab. Bagaimana mungkin Rasulullah saw mengerti wahyu tersebut bila turun dalam bahasa lain. Namun sebagian kita umat Islam berpendapat bahwa semua Nabi mendapat wahyu dalam bahasa Arab. Tentu pendapat ini sangat keliru. Simak firman Allah :

Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.”(QS Ibrahim ayat  4)

Dan senada dengan itu Allah telah menjawab pertanyaan non Muslim mengenai  mengapa Al Quran berbahasa arab ? Firman Allah :

” Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS Fushshilat ayat 44)

Hadeh kepanjangan curhatnya… eh maksudnya pembukaannya. Langsung ke TKP gan………

Mekah adalah salah satu kota suci dari umat Islam. Mekah, namanya berasal dari kata: imtakka yang artinya mendesak atau mendorong. Kota ini disebut Mekah karena manusia berdesakan di sana. (Mu’jam al-Buldan, kata: Mekah)

Dalam Alquran Allah menyebutnya dengan Bakkah. Allah berfirman,

“Sesungguhnya rumah yang pertama kali di dibangun (di bumi) untuk (tempat beribadah) manusia adalah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang memiliki berkah dan petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 96).

Kota Mekah disebut Bakkah dari kata bakka – yabukku, artinya menekan. Karena Mekah menekan leher-leher orang yang sombong (Tafsir Jalalain untuk QS. Ali Imran: 96).

Di dalam Al Quran kota mekah memiliki beberapa nama. Diantaranya :

  1. Ummul Qura (pusat kota), Allah berfirman,

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya.” (QS. As Syura: 7)

Kota Mekah disebut Ummul Qura karena menjadi kota yang paling padat kegiatannya.

  1. Al-Balad al-Amin (kota yang aman), Allah berfirman,

 “Demi al-Balad al-Amin ini (Mekkah).” (QS. At Tin: 3).

  1. Ma’ad (tempat kembali), Allah berfirman,

“Sesungguhnya Dzat yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al Qashas: 85).

Sebagian ahli tafsir mengatakan, yang dimaksud tempat kembali adalah Mekkah. (Tafsir Jalalain, untuk QS. Al Qashas: 85)

  1. Al-Baitul Haram, Allah berfirman,

“(ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf…” (QS. Al Haj: 26).

Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa Baitullah adalah Mekkah (Mekkah fil Qur’an wa as-Sunnah, Hal. 6)

 

Beberapa keutamaan kota mekah :

  1. Allah pilih untuk dijadikan tempat Ka`bah

Allah berfirman,

 “Sesungguhnya rumah yang pertama kali dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah)…” (QS. Ali Imran: 96)

  1. Mekah adalah negeri yang terbaik dan paling dicintai Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menghadapkan wajahnya ke Mekah, ketika hendak hijrah ke madinah:

 “Demi Allah, saya sangat sadar bahwa engkau adalah negeri Allah yang paling aku cintai, dan negeri yang paling dicintai Allah. Engkau adalah tempat yang paling baik di muka bumi dan yang paling dicintai Allah. Andaikan bukan karena pendudukmu yang mengusirku, aku tidak akan keluar.” (Fadhail Mekah, hal. 18)

  1. Allah melindungi Mekah dari serangan luar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah melindungi Mekah dari serangan gajah dan Dia jadikan Rasul-Nya dan orang mukmin menguasainya…” (HR. Bukhari no. 112)

  1. Dajjal tidak bisa masuk Mekah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada satupun negeri kecuali akan diinjak Dajjal. Kecuali Mekah dan madinah. Tidak satupun lorong menuju kota tersebut, kecuali di sana terdapat para Malaikat yang berbaris, menjaga kota tersebut.” (HR. Bukhari no. 1881).

  1. Tanah Haram

Haram dalam bahasa arab artinya mulia. Disebut tanah haram, karena kota Mekah memiliki aturan khusus yang tidak ada pada daerah lain. Di antaranya, tidak boleh memburu binatangnya, mematahkan rantingnya, sebagaimana disebutkan dalah hadis berikut:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“…tidak boleh mematahkan rantingnya, tidak boleh memburu hewan liarnya, tidak halal mengambil barang hilang, kecuali bagi orang yang hendak mengumumkannya…” (HR. Bukhari no. 1510)

 

Mecca : Targum Rav Saadia Gaon

Umat Yahudi dan umat Islam tidak bisa dipisahkan keberadaanya dan apalagi saling dipertentangkan ajaran TAUHID (monotheism) yang mendasarinya. Di Indonesia saat ini sedang ada gerakan masif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok anti-Islam dari kalangan Kristen untuk mempertentangkan antara umat Yahudi dan umat Muslim yang menyebutkan bahwa umat Muslim adalah pemuja nama BERHALA yang pusat peribadatannya berada di kuil berhala, yakni di kota Mekah.

Kelompok anti-Islam di Indonesia ini berupaya dengan berbagai cara untuk memberikan label kepada kaum Muslim bahwa agama Islam bukanlah pewaris iman Abraham. Bahkan agama Islam disebutnya sebagai pseudo-Abrahamic faith oleh mereka. Namun, bila kita jujur dan mau belajar tentang dokumen-dokumen rabbinic era Gaonim, maka kita akan melihat kebenaran itu, meskipun telah dimanipulasi dan ditutup-tutupi oleh kaum anti-Islam tersebut.

Dalam tradisi Rabbinic Yahudi, ada 3 buah Targum yang terkenal yg dikhususkan dalam mempelajari Torah:

(1) Targum Onqelos dalam bahasa Aram,

(2) Targum Yonathan dalam bahasa Aram,

(3) Targum Saadia Gaon dalam bahasa Judeo-Arabic.

Rabbi Saadia Gaon menulis sebuah karya, yakni ” Targum Chamisha Chumshe Torah be Leson ha-‘Aravit: Tafsir Chamisha Chumshe Torah bil ‘Arabiyyah.” Rabbanu Sa’adiyah ben Yosef Gaon menulis karya tersebut dng huruf Judeo-Arabic yang merupakan kitab otoritatif dalam mempelajari Torah bagi kaum Yahudi Sephardim dan Mizrachim di negeri Arabia/ Timur Tengah.

Pada teks Sefer Bereshit/ Sifr Takwin (kitab Kejadian 10:29-30), Rabbanu Saadia Gaon menulis demikian :

targum 1

” Wa Ufir wa Hawilah wa Yubab kullu haula’u bani Qahthan. Wa kana maskanuhum min MAKKAH ila an taji ila AL-MADINAH ila al-jabal al-sharqi. “

( Dan Ofir dan Hawilah dan Yobab itulah semuanya keturunan Yoktan. Daerah kediaman mereka terbentang dari MAKKAH hingga ke arah MEDINAH hingga mencapai ke arah pegunungan di kawasan timur).

Rabbi David Kimkhi (Radak) salah seorang penafsir kitab Torah era Rishonim, yang tafsirannya termaktub dalam ” Torat Chaim: Chamisha Chumshe Torah “ juga menyitir pernyataan Rabbanu Saadia Gaon dan sekaligus menjelaskannya. Lihat teks berikut, khususnya ayat ke-30. Nama Mesha dijelaskan sebagai Mekkah, tempat suci dalam pelaksanaan ibadah HAJI bagi kaum penganut iman Ishmael.

targum 2

“me-Mesha: targum Rav Sa’adiyah z”l. Mekka sheholachim ha-Yishma’elim le Hog shem.”

(dari Mesha: Targum Rabbi Saadia Gaon semoga HaShem menguduskan wajahnya, yang dimaksud adalah Mekkah yang disebut sebagai tempat suci bagi kaum Yishmael untuk melaksanakan ibadah Haji).

Inilah tulisan dari Rabbi Saadia Gaon era generasi Gaonim dan Rabbi David Kimkhi era generasi Rishonim yang menjelaskan keberadaan tempat suci kaum Yishmael, dan bukan sebagai tempat pemujaan berhala (avodah zarah) dan mengagungkan nama berhala.

Memang Al Quran telah mencatat bahwa telah terjadi pencemaran pemujaan berhala di Baitullah di kota Mekah, dan sejarah mencatat juga terjadi pencemaran pemujaan berhala di Bait EL di Yerusalem. Namun, kedua kota suci itu adalah kiblat kedua agama. Kaum Yahudi ber-tefilah berkiblat ke arah Yerusalem, sedangkan kaum Muslim ber-tefilah (shalat) dan mengakui kedua kiblat di Yerusalem dan Mekkah (Bait El/Baitul Maqdis adalah arah kiblat umat Islam sebelum ayat perintah  memindahkan arah kiblat ke baitullah di mekah turun).

Dengan kota Mekah sebagai kota suci yang aman maka benarlah segala isi Al Quran, Andaikata Palestina disebut Al Quran sebagai kota suci yang aman maka bohonglah semua isi Al Quran. Sesuai firman Allah :

Transliterasi : Wahaazal (dan ini)- baladil(negeri)- amiin(aman)

“dan demi kota (Mekah) ini yang aman,”(QS At tiin ayat 3)

Seandainya balad = Palestina maka pasti Islam adalah hoax, namun firman Allah terbukti Mekah adalah kota yang aman. Mekah tidak bisa dikuasai non muslim bahkan menginjaknya aja susah.

Maka benarlah segala firman Allah Yang Maha Agung.

Salam bagi yang berpikir

Bunda Maria.

Sumber : kumpulan E-book kristolog dan E-book Islami group telegram kristolog.com

Join with us.

Iklan